Selasa, 10 April 2012

TUJUAN dan HIKMAH PERKAWINAN


TUJUAN DAN HIKMAH PERKAWINAN

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Banyak orang yang menikah dan berkeluarga tetapi mereka masih tidak tahu apa tujuan yang sebenarnya dari ikatan mereka. Mereka hanya menjalaninya saja tanpa memahami hakekat dari tujuan mereka itu. Sehingga tidak jarang kita temukan beberapa keluarga salah kaprah atas tujuan mereka, sehingga hal inilah yang salah satu faktor yang menimbulkan pertengkaran, ketidak harmonisan di dalam rumah tangga itu sendiri. Implikasi hal itu jika ditinjau lebih jauh maka kita akan mendapatkan sebuah asumsi awal atau hipotesis seperti ini.
Banyak keluarga yang tidak paham tujuan mereka dalam menikah, hal itu mengakibatkan tidak adanya kontrol atas jalannya tujuan (karena tidak tahu tujuannya apa), itu bisa diasumsikan dengan tidak adanya target yang akan dicapai (tujuan) didalam keluarga, karena tidak adanya target itu maka keluarga itu enggan mengetahui cara baik mencapai target yang baik itu (secara tidak langsung), karena enggan mengetahui cara yang baik dan tidak punya target yang baik sehingga mereka tidak tahu cara yang baik dan tidak punya target yang baik, karena mereka tidak tahu cara yang baik itu dan target yang baik itu, maka membuat mereka memperoleh/menggunakan cara yang kurang baik dan. Sehingga cara yang kurang baik ini membuat keluarga mereka juga kurang baik. Akibatnya keluarga mereka tidak rukun dengan semestinya. Dan keluarga yang tidak rukun ini rentan sekali dengan perceraian atau broken home (istilah kerennya). Karena rentan dengan itu maka banyak mereka jadi begitu (broken home maksudnya). Karena banyak jumalah mereka yang begitu (broken home) maka banyak anak mereka yang tidak ter-urus sehingga anak mereka nakal[1] dan karena nakal jadinya tidak berkualitas
.
Karena itulah jangan sampai mereka (yang menikah) tidak tahu tujuan mereka menikah[2].
Adapun didalam pendahuluan ini terlebih dahulu akan kami paparkan beberapa hal yang kurang tepat terkait tujuan perkawinan yang harus dihindari.[3] Langsug saja beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, orang menikah untuk memenuhi  kebutuhan  biologis  (terutama dalam  hal  seks) saja. Yang  termasuk kategori  ini  adalah mereka  yang hanya melihat pernikahan sebagai ijin legal untuk menikmati hubungan seks, entah mereka sekedar ingin  merasakan  sensasi  tindakan  tersebut  (mereka  belum  melakukan  hubungan  seks premarital) atau melepaskan diri dari rasa bersalah karena sudah sering melakukan hubungan seks premarital. Beberapa orang yang rentan  terhadap godaan seks  juga cenderung melawan godaan  tersebut  dengan  cara menikah. Mereka  berpikir  bahwa  kalau  sudah menikah maka tidak akan ada lagi godaan-godaan seperti itu. Pendeknya, pernikahan hanya diangap sebagai salah satu cara mujarab untuk menghindarkan diri dari godaan seksual atau perzinahan.
Kedua, orang menikah untuk memenuhi tuntutan sosial dalam  keluarga/masyarakat. Kesalahan  seperti  ini  sering  terjadi  dalam  sebuah  kultur  yang mempraktekkan  pernikahan dini,  sehingga  tidak menikah  atau menikah  di  usia matang  akan  dianggap  sebagai  sesuatu yang negatif. Tuntutan sosial seperti ini tidak jarang membuat orang memilih pasangan hidup secara  sembarangan,  karena  mereka hanya  mengejar  target  umur.  Dalam  konsep mereka yang paling dalam  terdapat gagasan, entah disadari  atau  tidak, bahwa  salah  satu tugas penting manusia dalam dunia ini yang tidak boleh diabaikan atau ditunda-tunda adalah menikah dan melahirkan banyak keturunan.
            Ketiga,  orang  menikah  untuk  melarikan diri dari  keluarga.  Tidak  semua  anak  bertumbuh dalam keluarga yang harmonis dengan pola pembinaan yang tepat. Mereka yang semasa kecil maupun  remaja/pemuda  merasa  tertekan  atau  tidak  kerasan  dengan  suasana  dalam  rumah keluarga  umumnya  ingin  melarikan  diri  dari  situasi  seperti  itu. Cara terbaik untuk melarikan diri dari keluarga yang tidak bahagia adalah dengan menikah, karena mereka  yang  menikah  sudah  tidak  berada  dalam  bimbingan  orang  tua.  Di  samping  itu, melarikan diri melalui pernikahan merupakan cara yang paling halus dan legal daripada pergi jauh dari rumah, hidup secara ugal-ugalan sebagai protes terhadap keluarga, dan sebagainya.
            Keempat, orang  menikah  untuk  mendapatkan  kehidupan  perekonomian  yang  lebih  baik. Kesalahan  seperti  ini  cenderung  terjadi  pada  mereka  (terutama  pihak  perempuan)  yang berasal dari keluarga miskin atau mereka yang memiliki konsep hidup materialistik. Dengan menikah  mereka  berharap  bisa  membebaskan  diri  dari  kemiskinan  maupun  memperoleh banyak hal yang tidak mungkin mereka dapatkan dari orang tua.
Kelima,  orang menikah  karena  terpaksa.  Sebagian  besar  orang  pasti  ingin menikah,  tetapi tidak  semua menikah  dengan  pikiran  yang  jernih  dan  kebebasan.  Sebagian  orang menikah karena  dipaksa  oleh  orang  tua,  baik  dijadikan  alat membayar  hutang, membalas  budi  pada sahabat/rekan,  memperlancar  bisnis,  dan lain sebagainya.  Sebagian  lagi  menikah  karena  sudah  terlanjur melakukan hubungan seks atau hamil.[4]
لا تنكحوا النساء لحسلهن فلعله يرديهن ولا لما لهن فلعله يطغيهن وانكحو هن للدين ولأمة سوداء خر قاء ذات دين افضل.[5]

Itulah beberapa hal yang kurang tepat terkait dengan tujuan pernikahan. Kemudian bab selanjutnya akan menjelaskan beberapa mengenai tujuan dan hikamah perkawinan yang semestinya, baik menurut undang-undang perkawinan maupun beberapa literatur yang telah penulis baca.


PEMBAHASAN

A.    Tujuan Perkawinan Menurut Undang-Undang
Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Pasal 1, tujuan perkawinan adalah “Untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Membentuk keluarga artinya membentuk kesatuan masyarakat kecil yang terdiri dari suami, isteri dan anak-anak. Membentuk keluarga yang bahagia rapat hubungannya dengan keturunan yang merupakan tujuan perkawinan, pemeliharaan dan
pendidikan menjadi hak dan kewajiban kedua orang tua. Bahagia adanya kerukunan dalam hubungan antara suami isteri dan anak-anak dalam   rumah   tangga.
Kebahagiaan yang dicapai bukanlah yang sifatnya sementara, tetapi kebahagiaan yang kekal karenanya perkawinan yang diharapkan adalah  perkawinan   yang   kekal, yang   dapat   berakhir   dengan  kematian  salah   satu pasangan  dan  tidak  boleh  diputuskan   atau   dibubarkan   menurut   kehendak pihak-pihak. Menurut Undang-Undang Nomor  1   Tahun   1974 dapat dijelaskan bahwa sebagai negara yang berdasarkan Pancasila  dimana   sila  yang pertama  yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai  hubungan   yang   erat dengan   agama/kepercayaan,   sehingga   perkawinan  bukan  saja mempunyai   unsur lahir/jasmani tetapi unsur bathin rohani yang mempunyai peranan yang penting.
Suami isteri perlu saling bantu membantu dan saling melengkapi dalam membentuk keluarga. Pembentukan keluarga atau  rumah  tangga bahagia   dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung  makna bahwa selain dari perkawinannya harus dilangsungkan menurut ajaran agama masing-masing sebagai pengejewantahan Ketuhanan Yang Maha Esa.

B.     Tujuan Perkawinan Menurut Beberapa Literatur
1.      Untuk Memperoleh Keturunan[6] (Reproduksi/Regenerasi)
   Inilah dasar serta tujuan pertama disyari’atkannya perkawinan. Maksud dari tujuan ini adalah untuk mempertahankan keturunan agar dunia ini tidak menjadi kosong dari jenis mausia. Disamping memang hal yang dianjurkan, upaya memperoleh anak adalah juga sebagai sarana taqarrub kepada-Nya. Sedemikian pentingnya sehingga membuat orang-orang saleh merasa enggan menghadap Allah SWT dalam keadaan membujang.
Taqarrub dalam hubungannya dengan upaya memperoleh anak ini meliputi empat aspek yaitu
a)      Mencari keridaan Allah dengan memperoleh anak demi mempertahankan kelangsungan manusia di bumi
b)      Mencari keridaan Rasulullah SAW. Yaitu dengan memperbanyak ummat beliau yang kelak menjadi  kebanggaan diantara ummat-ummat yang lain.
c)      Mengharap berkah dari do’a anak-anak yang saleh kelak sepeninggalnya.
d)     Mengharapkan syafaat dari anaknya, apabila anak itu meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa[7].

ãÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 Ÿ@yèy_ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& $[_ºurør& z`ÏBur ÉO»yè÷RF{$# $[_ºurør& ( öNä.ätuõtƒ ÏmŠÏù 4 }§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäïx« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ  
11. (dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.
(QS. As-Syura’: 11)

ª!$#ur Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurør& tûüÏZt/ Zoyxÿymur Nä3s%yuur z`ÏiB Ï...M»t6Íh©Ü9$# 4 ÇÐËÈ  
72. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik...."
(QS. An-Nahl: 72)

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`Í #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnöF{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3øn=tæ $Y6ŠÏ%u ÇÊÈ  
1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[8]. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[9], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. An-Nisa’: 1)

Disamping ayat-ayat diatas banyak pula hadis yang menegaskan tentang hal ini, seperti:
تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَالْوَلُوْدَ فَإِنِّى مُكَا ثِرٌبِكُمُ الْأَنْبِيَاءَ يَوْم الْقِيَا مَةِ
“Kawinlah dengan perempuan yang pencinta lagi bisa banyak anak, agar nanti aku akan dapat membanggakan jumlahmu yang banyak itu dihadapan para nabi di hari kiamat nanti.”
Hal ini juga bisa diartikan sebagai upaya melestarikan gen manusia. Pernikahan sebagai sarana untuk memelihara gen manusia, alat reproduksi, dan regenerasi dari masa ke masa. Dengan pernikahan inilah manusia akan dapat memakmurkan hidup dan melaksanakan tugas sebagai khalifah dari Allah. Mungkin dapat dikatakan bahwa untuk mencapai hal tersebut (regenerasi) dapat melalui nafsu seksual yang tidak harus memlalui syari’at, namun cara tersebut dibenci agama karena itu dapat menyebabkan penganiayaan, saling menumpahkan darah, dan menyia-nyiakan keturunan sebagaimana yang terjadi pada binatang.
Nabi menganjurkan nikah bagi orang yang mengharapkan keturunan, seperti periwayatan Ma’qal bin Yasar bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw., kemudian berkata: “Ya Rasulullah! Aku memperoleh seorang wanita yang cantik, indah, berketurunan memiliki status sosial dan harta, tetapi ia tidak melahirkan. Apakah aku nikahi?” Nabi melarangnya. Laki-laki itu datang lagi yang kedua kalinya tetapi Rasulullah Saw., mengatakan sama seperti sebeumnya sampai laki-laki itu datang untuk ketiga kalinya, kemudian beliau bersabda:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَالْوَلُوْدَ فَإِنِّى مُكَا ثِرٌبِكُمُ الْأُ مَمَ

Kawinilah wanita yang penuh kasih sayang dan banyak anak sesungguhnya akau bangga memiliki banyak ummat.”

Semua nash yang telah dikemukakan diatas menunjukkan tujuan betapa pentingnya reproduksi agar ummat Islam kelak menjadi ummat yang banyak sesuai dengan ummat yang hendak dibangun  islam yaitu membangun ummat yang banyak lagi islamis dan maju disegala bidang kehidupan. Dalam hal ini Islam tidak hanya menginginkan kuantitas yang banyak tetapi juga kualitas yang baik (berkualitas)[10] sebab pada ayat lain diperingatkan agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Itu artinya kita sebagai generasi Islam haruslah menjadi generasi yang kuat serta berkualitas dan kelak juga pada waktunya kita menghasilkan generasi yang berkualitas juga. Seperti halnya dikemukakan dalam surat An-Nisa ayat 9 yang berbunyi;
|·÷uø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz Zp­ƒÍhèŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøŠn=tæ (#qà)­Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´ƒÏy ÇÒÈ  
9. dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.
(QS. An-Nisa’: 9)

            Karena itu, nabi mengajak untuk hidup berkeluarga dan menurunkan serta mengasuh anak-anak supaya menjadi warga masyarakat dan ummat Islam yang benar-benar shaleh. Maka dari itu beliau memuji pasangan yang bisa memberikan anak. Sebab anak itulah yang akan mengembangkan dan meneruskan islam di segala kondisi zaman. Dengan demikian, tujuan dibalik ummat yang banyak dan berkualitas tersebut ialah agar mereka kelak menegakkan dan menyiarkan ajaran islam. Konsekuensi lebih dalam adalah, orang yang mampu menyampaikan ajaran islam adalah orang-orang yang berilmu, tentu mereka inilah orang-orang yang berkualitas dan kuat. Karena itu tujuan reproduksi adalah melahirkan generasi yang banyak lagi kuat.[11] Hal inilah yang Insya Allah disukai oleh-Nya.
Dengan begitu jelaslah perkawinan adalah upaya melangsungkan sesuatu yang disukai Allah, sedangkan keengganan melakukannya adalah penyia-nyiaan, bahkan perusak sesuatu yang diperintahkan untuk memeliharanya. Karena itulah syari’ah tak kepalang tanggung dalam mengancam hukuman keras atas tindakan membunuh atau mengubur hidup-hidup anak keturunan. Sebab jelas perbuatan itu mengalangi proses kesempurnaan wujud alam semesta. Hal ini juga dikarenakan Allah SWT., menyukai terpeliharanya jiwa.

  1. Penyaluran Gejolak Syahwat (Pemenuhan Kebutuhan Biologis) Tanpa Menghilangkan Kehormatan
Sudah menjadi kodrat Allah SWT., manusia diciptakan berjodoh-jodoh dan mempunyai keinginan untuk berhubungan antara laki-laki dan wanita. Dalam perkawinan untuk   menyalurkan  naluri seksual  dan untuk   menyalurkan cinta dan kasih sayang laki-laki dan wanita secara harmonis dan bertanggung    jawab. Penyaluran cinta dan kasih sayang yang diluar perkawinan tidak akan menghasilkan keharmonisan dan tanggung jawab yang layak dan bahkan akan menghilangkan citra di masyarakat (menghilangkan kehormatan) atau lebih dalam menyamakan diri dengan binatang, karena didasarkan kebebasan yang tidak terikat oleh satu norma apapun. Ini juga sekaligus memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan.
Ketenangan hidup dan cinta serta kasih sayang keluarga dapat ditunjukkan dalam   perkawinan. Orang-orang    yang   tidak  melakukan   penyalurannya    dengan perkawinan akan  mengalami ketidak-wajaran dan dapat menimbulkan kerusakan pada dirinya sendiri atau orang lain bahkan  masyarakat, karena manusia  mempunyai nafsu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.
Ini berarti membentengi diri dari godaan setan yang terkutuk, mematahkan keinginan yang sangat kuat yang memenuhi pikiran, mencegah bencana akibat dorongan syahwat, menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dari perbuatan terlarang.
Kebanyakan dari atsar (peninggalan) dan Khabar (berita) yang dinukilkan mengisyaratkan tentang hal ini, namun hakikatnya tujuan ini tidak sepenting tujuan yang telah disebutakan sebelumnya yakni memperoleh keturunan.
Sebab karena adanya unsur syahwat dimaksudkan guna mendorong untuk mendapatkan anak. Karena itu, melakukan perkawinan sudah cukup demi menyalurkannya dan menolak bahaya. Disampig itu, seseorang yang telah memenuhi  seruan Tuhannya demi meraih keridhaan-Nya tidaklah setingkat kedududukannya dengan seseorang yang memenuhinya demi menyelamatkan diri dari akibat buruk yang mengancamnya. Yang pasti ialah bahwa syahwat dan anak, keduanya merupakan takdir Tuhan. Diantara keduanya terdapat kaitan yang erat. Meskipun demikian, tidak boleh dikatakan bahwa yang menjadi tujuan ialah mencari kelezatan, sedangkan anak hanyalah merupakan akibat atau konsekuensi dari kelezatan. Seperti buang air besar, merupakan konsekuensi dari makan kendati bukan tujuannya. Yang benar ialah bahwa memperoleh anak  adalah tujuan manusia sesuai dengan fitrahnya maupun hikamh Allah SWT. Adapun syahwat merupakan pendorong bagi tercapainya tujuan itu.[12]
Nikah menyalurkan nafsu manusia menjadi terpelihara, melakukan maslahat orang lain dan melaksanakan hak-hak isteri dan anak-anak dan mendidik mereka.

¨@Ïmé& öNà6s9 s's#øs9 ÏQ$uŠÅ_Á9$# ß]sù§9$# 4n<Î) öNä3ͬ!$|¡ÎS 4 £`èd Ó¨$t6Ï9 öNä3©9 öNçFRr&ur Ó¨$t6Ï9 £`ßg©9 3 zNÎ=tæ ª!$# öNà6¯Rr& óOçGYä. šcqçR$tFøƒrB öNà6|¡àÿRr& z>$tGsù öNä3øn=tæ $xÿtãur öNä3Ytã ( z`»t«ø9$$sù £`èdrçŽÅ³»t/ (#qäótFö/$#ur $tB |=tFŸ2 ª!$# öNä3s9 4 
187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu,
(QS. Al-Baqarah: 187)

öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4¯Tr& ÷Läê÷¥Ï© ( (#qãBÏds%ur ö/ä3Å¡àÿRL{ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur Nà6¯Rr& çnqà)»n=B 3 ̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËËÌÈ  
223. isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki[13]. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
(QS. Al-Baqarah: 223)

tûïÏ%©!$#ur ö/ãf öNÎgÅ_rãàÿÏ9 tbqÝàÏÿ»ym ÇËÒÈ   žwÎ) #n?tã óOÎgÅ_ºurør& ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNåkß]»yJ÷ƒr& öNåk¨XÎ*sù çŽöxî tûüÏBqè=tB ÇÌÉÈ   Ç`yJsù 4ÓxötGö/$# uä!#uur y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ç/èf tbrߊ$yèø9$# ÇÌÊÈ  
29. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,
30. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki[14], Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
31. Barangsiapa mencari yang di balik itu,[15]Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
(QS. Al-Ma’arij: 29-31)

tûïÏ%©!$#ur öNèd öNÎgÅ_rãàÿÏ9 tbqÝàÏÿ»ym ÇÎÈ   žwÎ) #n?tã öNÎgÅ_ºurør& ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNåkß]»yJ÷ƒr& öNåk¨XÎ*sù çŽöxî šúüÏBqè=tB ÇÏÈ   Ç`yJsù 4ÓxötGö/$# uä!#uur y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbrߊ$yèø9$# ÇÐÈ  
5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[16]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu[17] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
(QS. Al-Mu’minun: 5-7)

Kesimpulannya, seorang isteri diperlukan demi kesucian hati, persis seperti diperlukannya makanan untuk perut.
Karena itu Rasulullah Saw., memerintahkan siapa saja yang melihat seorang perempuan lalu hatinya tertarik kepadanya, agar ia segera mendatangi isterinya. (dengan begitu akan mampu mengusir hayalan-hayalan negatif dari pikiraannya).[18]
Diriwayatkan oleh jabir r.a. bahwa Rasulullah Saw. Pernah melihat seorang wanita, lalu beliau segera pulang dan menemui Zainab, isterinya. Kemidian beliau berkata;

انَّ الْمَرْ أَةَ اِذَا اَقْبَلَتْ اَقْبَلَتْ بِصُوْرَةِ شيطا نِ, فَإذا رَآَى احَدُكُمْ امْرَأَةً فَاَ عْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ اَهْلَهُ فَاِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الْذِى مَعَهَا
Adakalanya seorang wanita datang seperti datangnya setan yang menggodan. Maka apabila dari kamu melihat seorang wanita yang menarik hatinya, hendaknya ia mendatangi isterinya sendiri, karena iapun memiliki apa yang dimiliki wanita itu.”
(HR Muslim dan Tirmidzi dengan sanad hasan dan shahih)

  1. Menenteramkan dan Menghibur Jiwa
Tujuan atau hikmah yang ketiga ialah menenteramkan dan menghibur jiwa. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Gazali beberapa faedah nikah, diantaranya; nikah dapat menyegarkan jiwa; hati menjadi tenang; dan menguatkan dalam ibadah. Jiwa itu bersifat pembosan dan lari dari kebenaran jika bertentangan dengan karakternya. Bahkan ia menjadi durhaka dan melawan jika ia disenangkan dengan kenikmatan dan kelezatan di sebagian waktu, ia menjadi kuat dan semangat. Kasih sayang dan bersenang-senang dengan isteri akan menghilangkan rasa sedih dan menghibur hati. Demikian yang disampaikan bagi orang-orang yang bertaqwa, jiwanya dapat merasakan ketenangan dan kesenangan dengan perbuatan ini (nikah)[19]. Sebagaimana firman Allah
* uqèd Ï%©!$# Nä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oyÏnºur Ÿ@yèy_ur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry z`ä3ó¡uŠÏ9 $pköŽs9Î) ( ... ÇÊÑÒÈ  
189. Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya...".
(QS. Al-A’raaf: 189)

Demikianlah melakukan perkawinan demi melepas lelah, menghibur hati dan membarui semangat. Hal ini tidak akan dipungkiri oleh siapa saja yang peranah merasakan kelelahan akibat terus menerus mengerjakan zikir, pikir dan berbagai kegiatan lainnya. Sedemikian pentingnya, sehingga berlaku pula bagi orang yang mati-syahwat sekalipun. Akan tetapi, faedah seperti ini hanya akan menambah deretan fadhilah perkawinan, apabila diiringi niat untuk itu.
Disamping itu juga dapat disebutkan lagi termasuk faedah atau hikamah perkawinan ialah bertambah banyaknya jumlah keluarga, dengan terjalinnya hubungan kekeluargaan, yang demikian itu dapat menimbulkan lebih banyak perasaan kuat dan aman di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sering kali sangat diperlukan demi menolak kejahatan dan mendatangkan keselamatan. Seperti tersebut dalam sebuah pepatah; “Sungguh hina siapa yang tak ada penolong baginya”.[20]
Berkaitan lagi dengan bertambahnya anggota keluarga yaitu anak atau bayi, hal ini tidak jarang didalam keluarga mampu memberikan hiburan bagi anggota keluarga lainnya, sehingga implikasinya dapat menimbulkan kasih sayang dan rasa cinta diantara anggota keluarga. Apabila hal ini dihubungkan dengan masa tua kelak maka akan menghilangkan rasa kekhawatiran. Umpamanya, Ketika anak masih kecil dijaga dan dipelihara oleh orang tuanya, bila anak sudah dewasa dan orang tuanya sudah lemah dan tak sanggup berusaha, maka dijaga dan dipelihara oleh anaknya. Begitulah seterusnya, sehingga mereka hidup dengan aman dan makmur.[21] Orang yang kawin biasanya tidak mengalami kesunyian dalam hidupnya karena ada teman hidup yang paling akrab yang dapat bersama-sama memikul dan merasakan saat senag dan susah.[22]
Namun jarang sekali orang yang menjadikannya sebagai salah satu tujuan perkawinan, kebanyakan orang melakukan perkawinan hanya demi memperoleh anak atau menanggulanggi desakan syahwat, dan sebagainya.

  1. Ibadah
Tentang tujuan ini, untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT., tersirat dari beberapa nash baik yang sudah dituliskan diatas ataupun yang masih di buku-buku lain. Salah satunya adalah nabi bersbda;

مَنْ نَكَحَ فَقَدْ حَصَّنَ نِصْفَ دِيْنِهِ لفَلْيَتَّقِ الّله فِى الشَّطْرِ الآخِرِ
Barangsiapa kawin, sesungguhnya ia telah membentengi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah dalam menjaga separuh lainnya.”

النِّكَا حُ سُنَّتِى فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى.  رواه مسلم
“Nikah itu adalah sunnahku, barangsiapa yang benci kepada sunnahku bukanlah termasuk ummatku.”
(HR. Bukhari)
Nash ini sangat tegas menjelaskan bahwa melakukan pernikahan adalah bagian dari agama. Melakukan perintah dan anjuran agama merupakan ibadah. Dengan demikian, nikah adalah bagian dari ibadah. Nash lain meskipun tidak secara tersurat tetapi tetap saja tersirat didalamnya. Misalnya harapan Rasulullah yaitu ummatnya akan berjumlah banyak pada akhir zaman nanti sebagaimana teks hadis yang disebutkan dibeberapa literatur lain. Walaupun secara tekstual didalam hadis tersebut mengatakan tujuan perkawinan yaitu reproduksi, namun dengan mengikuti hadis tersebut berarti mengikuti Rasulullah dan itu tetap saja bernilai ibadah.[23]
            Sebagai tambahan, meskipun bukan tujuan perkawinan tetapi dapat disebut dan penting dipahami, bahwa dalam perkawinan bukan saja ibadah, hubungan Allah dengan hambanya melainkan juga memenuhi unsur sosial. Karena itu tidak tepat apabila ada orang mengatakan dan berpendapat bahwa perkawinan hanya urusan pribadi dengan Allah, dan tidak perlu campur tangan orang lain dan pemerintah. Sebab sejumlah hadis menunjukkan bahwa dalam perkawinan juga ada unsur sosial kemasyarakatannya, karena itu penting keterlibatan orang lain dan keluarganya.[24]

  1. Pemindahan Kewarisan
Tidak mungkin ada konsep perpindahan kekayaan dari generasi ke generasi tanpa adanya wadah yang memelihara nasab, kerabat, dan keturunan. Wadah ini adalah keluarga. Al-Qur’an telah menjelaskan kaidah-kaidah waris antar kerabat. Hal tersebut tidah akan kokoh dengan sempurna tanpa adanya hubungan kekerabatan yang jelas dan batasan-batasan tertentu. Tanpa adanya aturan-aturan seperti ini, menjadikan hilangnya kekayaan dengan wafatnya pemilik kekayaan. Pertentangan akan timbul antara orang-orang yang mengatakan memiliki hubungan dengan orang yang mewariskan secara benar ataupun batil setelah kematiannya. Ditambah lagi dengan bersandar kepadanya, tanpa keluarga, tanpa mengetahui kerabat dekat, dengan tingkatan-tingkatannya untuk memutuskan hubungan antara manusia dan memutus hubungan kerabat dekat. Hal ini termasuk wasiat Allah untuk menyambungnya.[25]

C. Kaitan Tujuan dan Himah Perkawinan dengan Situasi Sekarang
            Diatas telah dikemukakan tentang hikmah berkawin dan faedah mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur. Lain dari pada itu faedah berkawin ialah memelihara diri sesorang, supaya jangan jatuh ke lembah kejahatan (perzinahan).
            Dokter-dokter telah sepakat, bahwa perzinahan itu menyebabkan penyakit-penyakit kotor. Dimana orang banyak melakukan perbuatan keji itu, maka disana bercabullah penyakit kotor. Dr. H. W. Miller, M.A.,M.D. dalam bukunya “Jalan Kepada Kesehatan”, Menerangkan dengan jelas syphilis atau raja singa dan gonorhea atau kencing nanah ialah dua dari banyak jenis penyakit menular seksual yang sangat berbahaya dan banyak terdapat dizaman sekarang. Walaupun hama penyakit ini tidak selalu menular lewat kemaluan, tetapi penularan penyakit ini hampir selalu disebabkan oleh persetubuhan sekitar 90%. Begitu banyak penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh bersetubuh di luar nikah ini seperti chlamydia, trichomoniasis, chancroid, herpes genital,   infeksi human   immunodeficiensy   virus  (HIV), hepatitis   B, skabies (gudig) dan Kondiloma akuminala. (WHO 2009)
            Lebih-lebih sekarang HIV/AIDS lagi ngeteren-ngeterennya di bicarakan dan dikaji. Dan tidak dielakkan penyebab utama dari penyakit ini ialah berhubungan intim (persetubuhan) yang dilakukan ditempat yang bergonta-ganti, atau bisa dikirakan dari perzinahan. Hal semacam ini dipengaruhi oleh perkembangan zaman yang semakin membabi-buta, yang semakin bebas, penyakit degradasi moral, dan bersamaan dengan hilangnya paham-paham agama yang semestinya dijadikan benteng pertahanan.
Penyakit-penyakit ini telah banyak membinasakan jiwa manusia. Penyakit kotor turun-temurun kepada anak cucu. Penyakit-penyakit ini bukan saja melemahkan jasmani dan rohani tetapi juga membahayakan rumah tangga. Anak dapat tertular, aib keluarga menjadi tercoreng. Sehingga hancurlah keluarga serta kehormatannya.
Salah satu cara mencegah penularan penyakit ini adalah dengan jalan kawin dan setia pada pasangan. Sehingga tidak membuat orang itu menginginkan gonta-ganti pasangan seksual karena sudah ada isteri yang menghadang.  
Dr. Ahmad Ramli dalam bukunya yang berjudul Peraturan-Peraturan Untuk Memelihara Kesehatan Dalam Hukum Syara’ Islam mengatakan “Koitus (persetubuhan) adalah kehendak alam dan perlu, dan kawin adalah aturan yang seharusnya dituruti”.
Begitulah hikmah diadakannya perkawinan di zaman kontemporer ini, dapat memperlambat dan mengurangi penularan ataupun dapat mencegah penyakit-penyakit yang sangt berbahaya.



PENUTUP

Kesimpulan
            Jelaslah telah terlihat bahwa perkawinan yang dianjurkan oleh perundang-undangan dan syari’at islam adalah bukan sekedar perkawinan belaka melainkan perkawinan yangميثاقا غليظا . Dari sini sebenarnya telah terlihat masyarakat yang hendak dibangun islam adalah masyarakat yang rukun sakinah, mawaddah dan rahmah.
Demikianlah banyak dari tujuan maupun hikmah perkawinan telah dijelaskan diatas. Hal yang telah dijelaskan diatas semat-mata bukanlah tujuan yang utamanya, melainkan tujuan yang saling melengkapi dan melengkapi tujuan yang utama yaitu memperoleh kehidupan yang سكينة (tenang/Ketenangan), مودة (cinta), dan  ر حمة(kasih sayang). Tujuan ini dapat dicapai secara sempurna, kalau tujuan-tujuan lain dapat terpenuhi. Dengan kata lain tujuan ini dapat terlaksana jika telah tercapainya tujuan memperoleh keturunan, kebutuhan biologis (menyalurkan syahwat), menghibur jiwa, ibadah, maupun pemindahan kewarisan dengan baik. Inilah yang dimaksud dengan tujuan lain sebagai pelengkap atau penunjang tujuan ini. Sesuai dengan yang telah diterangkan dalam surat Al-Rum ayat 20 ataupun dalam surat Al-Baqarah ayat 187, nyatalah tujuan utamanya adalah cinta dan kasih sayang.



DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Khoiruddin Prof., Dr.,MA. 2005. Hukum Perkawinan 1 (edisi revisi). Yogyakarta: ACAdeMIA dan TAZZAFA.

Al-Ghazali. Menyingkap Hakekat Perkawinan: Adab, Tata Cara dan Hikmahnya (cetakan VIII). Terjemah: Muhammad Al-Baqir. Bandung: Karisma.

Azzam, Abdul Aziz Muhammad Prof., Dr., dan Prof. Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. 2009. Fiqh Munakahat: Khitbah, Nikah, dan Talak. Terjemah: Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag. Jakarta: Amzah.

As-Syubki, Ali Yusuf Dr. 2010. Fiqh Keluarga (judul asli: Nizam Al-Usrah). Terjemah: Nur Khozin. Jakarta: Amzah.

Nur, Djamaan Drs., H. 1993. Fiqh Munakahat. Semarang: Dina Utama Semarang (Dimas).

Yunus, Mahmud Prof., Dr. 1983. Hukum Perkawinan Dalam Islam. Jakarta: PT Hidakarya Agung.

Al-Shabbagh, Mahmud. 1991. Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam (judul aslai: Al-Sa’adah Al-Jawjiyyah fi Al-Islam). Terjemah: Bahruddin Fannani. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mukhtar, Kamal Drs. Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan. Jakarta: Bulan Bintang.

Latif, Sutan Marajo Nasaruddin H. 2001. Ilmu Perkawinan: Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga (edisi revisi). Bandung: Pustaka Hidayat.

Handoko, Yakub Tri., Th.M. Tujuan Pernikahan. Marriage Meeting GKRI Exodus

Khudari Beq. 1967. Tarikh Tasri’ al-Islam. Surabaya: Maktabah Tijaratul Qubra.

Muhammad Ibnu Ismail al-Kahlani. 1995. Subulussalaam (jilid 3). Semarang: Toha Putra.


[1] Nakal ini juga yang dapat menyebabkan mereka terjerumus kapada hal-hal yang tidak baik.
[2] Karena kalau mereka menikah tidak tahu tujuan, ditakutkan mereka melahirkan generasi yang tidak berkualitas.
[3] Maksud pemaparan ini adalah agar mereka tahu tujuan yang harus mereka hindari karena banyak ditakutkan juga kalau mereka tidak tahu tujuan ini, mereka akan melakukannya, ini akan bahaya juga.
[4] Yakub Tri Handoko, Th.M. Tujuan Pernikahan. Marriage Meeting GKRI Exodus. Halaman 1. File PDF.
[5] (اجزء الثالث) سبل السلام . تأيف السييد الامام محمد بن إسماعيل الكحلا ني ثم الصنعاني المعروف بالأمير. . Semarang: Toha Putra. Bab An-Nikah halaman 111.
[6] Al-Ghazali. Menyingkap hakikat Perkawinan: Adab, Tata-cara dan Hikmahnya.(terjemahan Muhammad Al-Baqir). Bandung: Karisma. Bab 1 halaman 24.
[7] Halaman 25
[8] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[9] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah
[10] Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA. 2004. Hukum Perkawinan 1. Yogyakarta: ACAdeMIA  & Tazzafa. Bab III halaman 41.
[11] Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA. 2004. Hukum Perkawinan 1. Yogyakarta: ACAdeMIA  & Tazzafa. Bab III halaman 42.
[12] Al-Ghazali. Menyingkap hakikat Perkawinan: Adab, Tata-cara dan Hikmahnya.(terjemahan Muhammad Al-Baqir). Bandung: Karisma. Bab 1 halaman 36.
[13] Adapun hisrorical contect dari surat Al-Baqarah ayat 223 ini (öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4¯Tr& ÷Läê÷¥Ï©) adalah menggambarkan kondisi arab yang memang sangat jarang ditemukan kebun untuk bercocok tanam. Sebab Arab terkenal sebagai daerah yang sangat tandus dan tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai ladang yang subur sebagaimana di Indonesia ini. Karena itu metapor  Al-Qur’an menggunakan kebun untuk menggambarkan isteri yang dimaksudkan agar isteri dijaga dan dirawat dengan baik dan penuh pengertian dan perhatian seolah-olah kita merawat bunga ketika musim kemarau. Jika tidak disirami dan dirawat secara baik dan teratur maka ia akan mati lesu dan kekeringan.
Lebih dalam lagi ke historical beground ayat ini adalah untuk menolak anggapan orang Yahudi Madinah ketika itu, bahwan anak yang lahir dari hubungan seksual suami dan isteri dari arah belakang adalah akan juling. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan boleh melakukan hubungan suami isteri dari arah mana saja asal pada tempat penyemaian benih, yakni qubul, bukan dubur. Demikian juga dapat menjadi dasar bahwa hubungan suami isteri bukan hubungan kenikmatan semata melainkan ada unsur ibadahnya, yakni kepatuhan atas aturan, yaitu larangan dengan dubur.
Lihat Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA. 2004. Hukum Perkawinan 1. Yogyakarta: ACAdeMIA  & Tazzafa. Bab III halaman 46.
[14] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[15] Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya
[16] Sama dengan diatas
[17] Sama dengan diatas
[18] Didalam Al-Ghazali. Menyingkap hakikat Perkawinan: Adab, Tata-cara dan Hikmahnya.(terjemahan Muhammad Al-Baqir). Bandung: Karisma. HR Ahmad dari Abu Kabsyah dengan sanad cukup baik.
[19] Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Prof. Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. 2009. Fiqih Munakahat: Khitbah, Nikah dan Talak. (terjemahan Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag.). Jakarta: AMZAH. Bab 3 halaman 40.
[20] Al-Ghazali. Menyingkap hakikat Perkawinan: Adab, Tata-cara dan Hikmahnya.(terjemahan Muhammad Al-Baqir). Bandung: Karisma. Bab 1 halaman
[21] Prof. Dr. H. Mahmud Yunus. 1983. Hukum Perkawinan dalam Islam. Jakarta: PT Hida Karya Agung. Bab 1 bagian II halaman 7.
[22] H. S. M. Nasaruddin Latif. 2001. Ilmu Perkawinan: Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga. Bandung: Pustaka Hidayah. Bab 1 halaman 16.
[23] Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA. 2004. Hukum Perkawinan 1. Yogyakarta: ACAdeMIA  & Tazzafa. Bab III halaman 48.
[24] Lihat Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA. 2004. Hukum Perkawinan 1. Yogyakarta: ACAdeMIA  & Tazzafa. Bab III halaman 50.
[25] Dr. Sa’ud Ibrahim Shalih. Adh’wa ‘ala Nizham Al- Usrah fi Al-Islam. Halaman 24. Didalam Karya Dr. Ali Yusuf As-Syubki. 2010. Fiqih Keluarga: Pedoman Berkeluarga dalam Islam. Jakarta: AMZAH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar